Bagaimana Melahirkan Inovator?

Kita sering melihat inovator dalam kehidupan kita, Steve Jobs, Bill Gates, Thomas Edison,
atau Sehat Sutardja. Seringkali karena tidak mengetahui proses yang terjadi selama hidup mereka, kita merasa bahwa mereka terbentuk by nature, bukan by nurture. Tony Wagner, seorang peneliti di Harvard, mencari tahu apa saja yang membentuk seseorang menjadi inovator. Ia mewawancarai 11 orang inovator muda dan orang-orang yang memengaruhi mereka. Hasilnya, terdapat 3 pihak yang membantu kreativitas inovator: orang tua, guru, dan mentor.

Orang tua seorang inovator tidak mendikte bidang yang seharusnya dinikmati seorang anak, tetapi memberikan banyak pilihan lalu merespon jika anak mengikuti minat tertentu. Contohnya orang tua Kirk Phelps, product manager dari iPhone.

Saat Kirk masih kecil, orang tuanya memasukkan Kirk ke klub sepak bola agar anaknya dapat tertarik terhadap olahraga. Orang tua Kirk ingin anaknya belajar keragaman budaya. Mereka tidak memasukkannya ke klub sepakbola elit yang sering memenangkan pertandingan, Kirk didaftarkan ke klub dengan anggota keturunan Spanyol. Kirk menjadi belajar budaya yang berbeda dengan bahasa yang berbeda.

Seperti orang tua Thomas Edison, orang tua Kirk juga memberikan buku-buku bacaan dengan tema yang beragam. Buku-buku sastra karya Charles Dickens seperti Moby Dick. Robinson Crusoe karya Daniel Defoe. Prosa dan puisi karya Jack Kerouac. Novel-novel karya Alfred Hitchcock. Bahkan musik-musik Jimi Hendrix. Orang tua Kirk membagikan gagasan-gagasan yang ada dari karya-karya itu.

Orang tua Kirk juga memberikan buku-buku orang-orang kreatif. Contohnya saja buku Richard Feynmann, ilmuwan  yang menyelesaikan masalah meledaknya roket Challenger, Drawing on the Right Side of the Brain. Kegemaran membaca orang tuanya menjadi tertular kepada Kirk. Setiap buku yang diberikan orang tuanya selalu Kirk lahap. Orang tua Kirk juga menetapkan jadwal membaca bersama satu jam setiap harinya, tidak peduli kegiatan sekolah sedang sepadat apa pun.

Orang tua Kirk hanya menentukan beberapa jadwal yang harus diikuti anak-anaknya, yaitu waktu membaca, batas waktu menonton TV atau main game, dan waktu tidur. Di luar itu anak-anak bebas bermain. Kirk adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Saat tidak ada kegiatan di sekolah, keempat anak ini biasanya bermain di luar; membentuk pasir, memanjat pohon, bermain bola. Orang tua Kirk memang percaya bahwa pengalaman bermain adalah hal yang tidak boleh hilang dari anak-anak. Mereka juga sengaja mencari rumah yang memungkinkan anak-anaknya bermain di luar.

Orang tua Kirk sangat mementingkan banyaknya waktu yang bisa mereka habiskan bersama anak-anaknya. Mereka jarang menonton TV, namun setiap Jumat malam mereka selalu berkumpul bersama menonton 2 atau 3 acara TV. Pada hari libur, orang tua Kirk selalu bermain dengan anak-anaknya. Mereka sangat mementingkan kuantitas waktu yang bisa mereka berikan untuk anak-anak mereka.

Orang tua Kirk pernah berkata, “Kebanyakan orang tua memiliki niat yang sangat baik dengan menentukan aktivitas yang ‘tepat’ untuk anak-anak mereka dan memasukkan mereka ke sekolah ‘terbaik.’ Bagi saya, hal yang luput dari banyak orang tua adalah kuantitas waktu yang bisa mereka lewatkan bersama anak-anak mereka. Sangat penting bagi anak ketika mereka berbicara dan ada orang dewasa yang mendengarkan. Ketika mereka menengok, ada orang yang menengok balik. Kami tidak menganggap meluangkan waktu untuk anak-anak sebagai pengorbanan. Kami baru tahu kalau anak-anak kami sangat tertarik kepada manusia, dan kami menghabiskan banyak waktu bersama mereka. Banyak orang yang kurang menghargai hal ini (kami juga dulu seperti itu). Ketika anak-anak masih kecil, saya baru saja memulai bisnis dan saya beranggapan quality time sudah cukup: saya dulu mencoba menyempatkan pulang ke rumah dan meluangkan quality time selama 45 menit, tapi anak-anak saya tidak akan memberikan quality time kecuali saya sebagai orang tua memberikan kuantitas.”

Orang tua Kirk menganggap peran orang tua itu memberikan beragam pilihan kegiatan yang bisa anak-anaknya sukai. Mereka mengenalkan olahraga, budaya dan bahasa lain, memberikan buku dengan topik yang beragam. Tujuannya bukanlah untuk mengarahkan jalan hidup anak-anaknya, namun memberikan pengalaman agar anak-anaknya bisa lebih mengenali apa yang sebenarnya mereka sukai dan yang tidak mereka sukai. Dengan itu kelak Kirk akan mampu memilih jalan hidup yang benar-benar mereka sukai dan bersungguh-sungguh dalam mengejarnya. Kirk juga belajar untuk mempercayai dirinya sendiri dan mengikuti instingnya, hal terpenting yang diperlukan seorang inovator.

Guru, tepatnya dosen, yang paling memengaruhi kemampuan berinovasi Kirk Phelps adalah dosen yang mengajarkan kelas Smart Product Design di Stanford, Profesor Ed Carryer.

Ed Carryer memiliki misi tersendiri dalam mengajar mahasiswanya, yakni empower students. Berkaca dari pengalamannya sendiri, selama kuliah ia mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dosen. Setelah lulus dan terjun ke dunia industry, semua ilmunya itu seperti tidak ada bekasnya. Ia perlu belajar hampir dari nol.

Setelah 10 tahun terjun di dunia industry, Ed Carryer memutuskan untuk mengajar di kampus. Kelas yang ia ajarkan, Smart Product Design, menantang mahasiswa untuk menyelesaikan proyek yang ia rancang. Proyek itu dirancang agar mahasiswa dapat menggabungkan ilmu di bidang teknik mesin, elektro, dan informatika.

Contohnya dalam satu semester ia menugaskan mahasiswa untuk merancang perahu yang dilengkapi penangkap gurita beserta sensornya. Umumnya mahasiswa yang lulus dari kelasnya menjadi lebih ahli dalam melakukan riset ataupun saat bekerja. Setiap perusahaan yang inovatif seperti Apple atau pabrik mobil Tesla pasti memiliki orang-orang inovatif yang pernah mengikuti kelas Carryer.

Pengaruh Carryer sangat besar terhadap alumni Stanford. Di Stanford ada celotehan, “Jika Ed Carryer ingin pergi ke Mars, ia akan menyalakan batlight-nya (lampu yang digunakan untuk memanggil Batman) dan alumni-alumni Stanford akan datang dan membantunya membuat roket. Dalam 6 bulan Ed akan tiba di bulan.”

Bagi Kirk Phelps, Ed Carryer tidak hanya guru, ia juga mentor. Tempat berdiskusi dan mengembangkan motivasi diri. Melalui kelas Ed inilah, Kirk tahu bahwa ia memang tepat untuk bekerja di Apple menjadi Product Manager.

Setiap inovator membutuhkan 3 pihak yang berpengaruh yakni orang tua, guru, mentor. Tiga pihak ini mendukung seorang inovator untuk menemukan hal yang benar-benar ingin ia lakukan. Membantu mereka menemukan tujuan hidup yang lebih dalam. Satu hal penting yang bisa dicapai manusia dalam hidupnya.
sumber: indonesiasetara.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s